Nama saya Septianingtyas, bisa dipanggil Septi. Saya
terlahir dari keluarga yang mempunyai latar belakang agama yang berbeda, ibu
saya islam dan bapak saya kong hu cu. Sejak kecil saya tidak tahu tentang
Yesus. Bahkan saya tidak ingat waktu kecil saya beragama apa, dan belajar
tentang agama siapa. Lingkungan di desa saya kebanyakan beragama Kristen. Saya
baru benar-benar mengenal siapa itu Yesus, saat saya bergabung di PPA. Ketika
itu saya menyimpan banyak sekali kepahitan terhadap keluargaku. Bapak saya mempunyai
cara pengajaran yang keras, ketika saya melakukan kesalahan kecil, tidak segan
Bapak akan memukul saya. Bapak melarang saya untuk bermain dan beliau
memberikan doktrin bahwa “teman itu tidak penting, yang penting belajar”.
Banyak hal yang saya alami waktu kecil, tidak hanya kekerasan fisik tetapi juga
pelecehan emosional. Saya selalu mendengar kata-kata yang tidak seharusnya
dikeluarkan oleh seorang Bapak kepada anak dan kata-kata itu ditujukan untuk
saya. Saya tumbuh dengan kepahitan yang mendalam, apalagi saya mengetahui bahwa
sejak dalam kandungan saya tidak diinginkan oleh ibu saya. Sudah 4 kali ibu
saya mencoba untuk menggugurkan saya, ternyata tidak berhasil. Berulangkali
saya bertanya sama Tuhan, kenapa saya harus lahir jika dengan keadaan seperti
ini. PPA menolong saya untuk lebih kenal dekat lagi dengan Tuhan Yesus, disana
saya diajari bahwa satu-satunya juruselamat dan sahabat yang baik adalah Yesus.
Semenjak itu, ketika saya merasa sakit hati dan tidak kuat, saya selalu
berbicara sama Yesus.
PPA membantu saya untuk melepas akar kepahitan, namun karena
saya belum bisa terbuka dengan orang lain, pelepasan itu tidak bisa berlangsung
lama. Saya terus bergumul dengan hal ini, sampai saat Ibu saya mau meninggal.
Beberapa hari sebelum beliau meninggal, beliau menceritakan semua kisahnya dan
kisah hidup saya sewaktu dikandungan sampai beranjak dewasa. Ya, sebenarnya
semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, mungkin caranya
yang belum bisa saya terima. Bodohnya, ketika ibu saya menceritakan semuanya
saya tidak tahu kalau waktu ibu di dunia tinggal sebentar lagi. Titik dimana
saya benar-benar melepaskan kepahitan ketika Ibu kembali pada Bapa, terkadang
saya menyesal kenapa saya tidak melakukannya sebelum ibu saya pergi. Tetapi saya
percaya bahwa Tuhan punya waktu yang terbaik untuk saya. Doa dan ucapan
terakhir dari ibu yang akan selalu saya ingat adalah “kamu pasti diterima di
LDP, rawat bapakmu dengan baik,bantu sesama dan jangan mengharapkan imbalan,
yang terakhir jangan pacaran sebelum kerja”. Saat saya merasa lemah, kata-kata
ibu selalu saya ingat sebagai motivasi saya.
Puji Tuhan saya keterima di LDP, perjuangan imanku baru saja
dimulai. Dari awal LDP sudah memberikan fasilitas supaya saya melepas segala
kepahitan yang saya punyai. Saya meresponi itu dan saya belajar untuk terbuka.
LDP adalah keluarga hebat yang saya punyai. Saya merasa semua yang saya dapat
adalah anugerah dari Allah, sebenarnya saya tidak layak untuk menerimanya,
tetapi Allah telah melayakkan saya. Program-program yang diberikan LDP sungguh
memberkati saya, kalau saya boleh bilang LDP Compassion sukses membuat saya
untuk keluar dari zona nyaman yang saya tempati. Saya merasakan 3 tahun di LDP
ada perubahan yang luar biasa terjadi dalam hidup saya. Awalnya saya yang
introvert, tidak percaya diri, merasa malu dengan keadaan saya, gambar diri
yang rusak, semuanya dipulihkanNya tahap demi tahap. Perubahan yang saya alami
juga dirasakan oleh teman-teman yang ada di sekililing saya. Mereka memberikan
tanggapan positif tentang perubahan yang saya alami. Saya bukanlah orang yang
pintar, tetapi Allah selalu memberikan kesempatan yang luar biasa pada saya.
Camp wanita bijak sukses menghantarkan saya untuk menyadari
bahwa saya adalah mutiara yang ditemukan. Saya mengalami banyak terobosan
ketika saya menjalani camp tersebut dengan gelas yang kosong. Saya lebih lagi
mengasihi keluarga saya, lebih mengasihi gereja saya, lebih mengasihi
orang-orang yang disekitar saya. Dalam perenungan dan doa, Allah menuntun saya
untuk membuka kitab dan tertuju pada Matius 28 “Karena itu pergilah dan
jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Putra dan
Roh Kudus. Dan ketahuilah Aku akan menyertai kamu senantiasa pada akhir zaman.”
Di saat itulah, saya merasa terpanggil untuk menyelamatkan jiwa-jiwa untuk
diberikan padaNya. Dia menuntun saya untuk mecintai jiwa-jiwa yang terhilang.
Saya sempat lari dan menolak hal ini, tetapi ketika saya lari, Dia terus
menarik saya untuk kembali. Sebenarnya saya masih ragu, apakah saya bisa
melakukannya atau tidak, namun dalam hati ada kata-kata yang kuat yang berkata
untuk mempercayai Yesus lebih dari siapapun. Sekarang yang bisa saya lakukan
adalah tetap berusaha dan berdoa, apapun panggilan yang diberikan Yesus pada
saya, saya belajar untuk menerimanya.